Posted in Bunda Sayang, Home Education, ibu profesional, IIP

Bunsay #2 IIP, Game Level 3: Family Project, Day 6

​Proyek selanjutnya muncul saat kami sekeluarga sedang leyeh-leyeh. Saat itu, Del (8y4m) sedang pegang tablet, lihat-lihat video waktu ia balita. Bosan melihat video, dia mulai nerekam sendiri sekelilingnya. Tiba-tiba, “Bun, kakak suka lho buat video” 

Saya bilang, “Oh ya? Kalau gitu gimana kalau kakak buat proyek video sendiri?”

Lalu kami langsung mendiskusikan, mau merekam apa. Saya jelaskan ada film tentang hewan, ada film yang menceritakan kisah manusia, dll. Karena Del bilang mau membuat film tentang manusia, maka ia perlu pemeran. Jadi saya, abi dan adiknya Al yang jadi pemeran. Kemudian saya tekankan, bahwa di proyek ini, si kakak yang jadi Bos, yang menentukan semuanya, atau kalau dalam film, namanya sutradara. Karena waktu itu hari sudah malam, maka tidak bisa merekam saat itu juga. Katanya,Del sudah tidak sabar lagi menunggu besok 🙂
#Day6

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

Posted in Bunda Sayang, Home Education, ibu profesional, IIP

Bunsay#2 IIP, Game Level 3: Family Project, Day 5

​Hari kelima pelaksanaan Proyek Huruf Hijaiyah.

Setelah Del si sulung manggut-manggut memperhatikan huruf hijaiyah yang ditempel di dinding, dia mengusulkan, “Bun, boleh diwarnai gak huruf hijaiyahnya?”
Langsung saya izinkan, karena saya memang mencari huruf yang bisa diwarnai, tapi memang sengaja tidak saya suruh. Ternyata ada juga inisiatif dari Del, horray!! 😆 Adiknya juga langsung ikutan. Mereka mewarnai pakai spidol yang ujungnya seperti kuas. Hasil karya Del rapi sekali, menggunakan satu warna saja. Sepertinya ia suka kerapian dan kesamaan. 

Sedangkan Al, tentu saja tidak serapi kakaknya, tapi warna yang dipakai banyak! 

Setelah mereka warnai, masing-masing saya apresiasi kemudian saya foto. Terlepas dari latihan mengulang hafalan hurufnya, Proyek Huruf Hijaiyah pun saya anggap selesai 🙌🙌
It’s a wrap!! 
#Day5
#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

Posted in Bunda Sayang, Home Education, ibu profesional, IIP, Uncategorized

Bunsay#2 IIP, Game Level 3: Family Project, Day 4

​Hari keempat pelaksanaan Proyek Huruf Hijaiyah. 

Hari ini cukup hectic. Jadwal full dari pagi hilir mudik kesana kemari. Del (8y,4m) ikut kegiatan ekskul di sekolah, sehingga ia baru sampai di rumah pukul 4. Sedangkan saya sore itu juga harus ke kampus menjumpai mahasiswa. Saya pikir, nanti malam saja lanjutan proyek dikerjakan, biarlah Del istirahat dulu. 
Malamnya, kami masuk kamar lebih cepat, lalu Del dan Al mulai menempel sebagian huruf hijaiyah. Saya ingatkan lagi, bahwa menempelnya di tempat yang sudah disepakati sebelumnya. Al (4y6m) ingat untuk menempel di lemari sesuai usulannya. Sedangkan Del juga ingat untuk menempel sesuai usulannya juga, yaitu di dinding. Saya bebaskan mereka memilih huruf yang mau ditempel.

Hasil tempelan Al (4y6m)

Al menempel huruf yang dia sudah tahu, yaitu alif dan ba dengan batis fatah. Dia menggunting sendiri selotipnya dan juga menempelkannya tanpa bantuan. Sesudah ditempel, dia langsung menguji ingatannya pada huruf-huruf tersebut 🙂

Hasil tempelan Del (8y4m)

Del menempel di dinding secara vertikal, dengan huruf berurutan. Sebelumnya dia sudah menjelaskan rencananya pada saya, bahwa dia akan menempelnya berurutan ke bawah. Dan masing-masing huruf diletakkan berdekatan, sehingga bisa menggunakan selotip yang sama untuk dua buah huruf. Untuk hal ini saya memujinya karena punya ide untuk menghemat selotip 😁 Sayangnya paksu tidak bisa ikut terlibat karena terjebak hujan deras di jalan. Tidak apa, Insya Allah besok akan saya minta untuk proses apresiasi hasil kerja anak-anak 🙂

#Day4
#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Bunsay#2 IIP, Game Level 3: Family Project, Day 2

​Hari kedua pelaksanaan Proyek Huruf Hijaiyah. 

Pada hari ini progress proyek hanya berjalan sedikit. Sesuai hasil musyawarah kemarin, maka huruf hijaiyah yang akan ditempel dicari di internet. Lalu nanti akan dicetak Selama proses browsing, anak-anak saya ajak, lalu saya minta memutuskan, gambar huruf hijaiyah mana yang akan dicetak. Ternyata mencarinya cukup makan waktu juga ya 😅 Maka cuma itulah progress proyek Huruf Hijaiyah kami 😥 Tahapan selanjutnya adalah mencetak dan menempelkan huruf-huruf tersebut di tempat yang telah disepakati. Semangat! 
#Day2
#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Bunsay#2 IIP, Game Level 3: Family Project, Day 1

​Bismillah…

Kelas Bunda Sayang IIP sudah memasuki Game Level 3, yang tantangannya semakin menantang! 😅😅 

Meski sudah cukup memahami Family Project yang diminta untuk dipraktikkan di rumah, saya masih berpikir apa yang akan dibuat. Beberapa kegiatan sudah dipikirkan, namun masih belum diputuskan yang mana yang akan dipraktikkan.
Sampai tadi malam pukul 20.30 WIB. Saat saya sedang menemani si sulung mengaji. Ternyata Del (8y4m) masih banyak huruf yang lupa dan tertukar, serta tajwid dasarnya belum lancar. Sembari kakaknya mengaji, Al berlatih sendiri hafalan Surat Al Fatihah. Maka saya pun memutuskan proyek pertama kami berkaitan dengan mengaji.

Mumpung masih ‘panas’, meski abinya anak-anak belum pulang, saya langsung buat saja Family Forumnya. Pada anak-anak, saya pakai istilah Musyawarah Keluarga, memakai istilah yang sudah dipelajari Del di sekolah. Saya pikir lebih mudah seperti itu, sekaligus mempraktikkan apa yang dipelajari Del di pelajaran PKN.
Pertama saya lontarkan topik betapa pentingnya bisa membaca Al Qur’an dengan lancar. Lalu saya tanyakan,”Tapi ternyata kakak masih banyak yang lupa ya hurufnya?” Del mengangguk sambil senyum malu-malu. Pertanyaan ini untuk menekankan adanya MASALAH. 

Trus saya tanya lagi,”Jadi gimana caranya ya nak supaya cepat ingat huruf hijaiyahnya?”. Pertanyaan ini untuk memancing SOLUSI dari masalah yang sudah dibahas sebelumnya. Untuk pertanyaan ini, Del langsung jawab dengan,”Gak tau!” 
Setelah tarik nafas panjang (karena hampir emosi dengan jawaban Del 😂), saya langsung tawarkan solusi, yaitu dengan menempelkan huruf hijaiyah di sekitar aktivitas sehari-hari. 

Pada proses selanjutnya, saya tanyakan antara lain:

1.”Menurut kalian, sebaiknya ditempel di mana huruf hijaiyahnya?”. 

2. “Huruf hijaiyahnya kita ambil dari mana ya?”

3. “Sesudah di tempel, trus mau diapain ya?”

Alhamdulillah, untuk pertanyaan ini ada jawabannya 😂 Abi yang sudah pulang dan langsung saya todong untuk ikut musyawarah juga sempat memberi saran. Bahkan sampai si adek juga ikut kasih saran. Maka kami mendapatkan rumusan, huruf hijaiyahnya ditempel di pintu kamar, di dinding kamar dan di lemari. Huruf-hurufnya dicari di internet, lalu diprint. Dan sesudah ditempel, maka harus sering-sering dilihat dan dibaca berulang-ulang.
Berhubung waktu sudah memasuki jam tidur anak-anak, maka musyawarah kami terhenti sampai di tahap persiapan. Itu juga belum sempat menentukan tanggal pelaksanaan dan beban tugas masing-masing. Tapi saya cukup senang dengan proses musyawarah kami. Hasil belakangan, tapi prosesnya saya pikir sudah cukup mengajarkan anak-anak untuk melontarkan pendapatnya dan menghargai pendapat orang lain,  menyelesaikan masalah dan mencari solusi yang tepat. Untuk di awal ini, memang lebih banyak saya yang melontarkan ide awal dan mengarahkan anak-anak. Saya pikir, lebih baik saya contohkan dulu, agar Del (8y4m) bisa melihat caranya. Semoga untuk berikutnya Del sudah bisa diarahkan menjadi pimpro. Insya Allah…  

#Day1

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

Posted in Book review

[Book Review] To Kill A Mockingbird – Indonesian Edition

Dan dengan jujur saya mengatakan bahwa saya belum menonton filmnya, dan juga baru membacanya tahun ini. Saya tahu buku ini tentang rasisme, tapi selalu maju mundur mau membacanya, karena saya paling tidak suka ketidakadilan. Dan meskipun itu dalam sebuah cerita fiksi, kadang sering terbawa emosi di kehidupan nyata hehehehe. Tapi tetap penasaran, karena buku ini selalu masuk di Daftar Buku Wajib Baca di berbagai tempat. Ketika hampir separuh buku sudah saya selesaikan namun saya tidak melihat adanya suatu hal yang cukup ‘wah’ tentang rasisme. Hanya kumpulan kisah masa kecil dua,…eh…tiga orang anak yang saya tidak mengerti hubungannya dengan rasisme.

Nah, jika kau belum dan ingin membaca buku ini, bertahanlah hingga lewat bagian pertengahan buku. Tetaplah membaca sampai akhir. Maka kau akan menemukan jawaban, mengapa buku ini begitu populer dan dinilai tinggi, apa kaitannya cerita masa kecil tersebut dengan grand theme yang ingin disampaikan penulis. Ketika membacanya pada masa kini, pesan buku ini seperti tidak terlalu istimewa, karena meskipun rasisme masih ada, tetapi sudah banyak kelompok orang yang anti rasisme. Namun, pada masa buku ini ditulis, pastilah tidak banyak yang berani menyuarakan apa yang disuarakan oleh Harper Lee. Ingatlah, bahwa buku ini masuk pada kategori klasik..jadi bawalah diri kita ke masa tersebut untuk menilai bukunya. Dan satu lagi yang saya suka, banyak kalimat yang bisa dijadikan quotation ahaha I looove quotation!! 😀

Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang

Posted in Rekreasi

Layanan Anak di Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Utara

Seorang teman merekomendasikan mendatangi Perpustakaan Daerah Sumatera Utara untuk tujuan wisata dengan anak. Katanya Bagian Layanan Anaknya bagus. Jadi tadi pagi kami sekeluarga main ke sana. Lokasinya di Jl. Brigjen Katamso, depan Istana Maimun. Dan ternyataaaa…tempatnya memang nyaman dan bukunya banyaaak, bagus sekali!

Dan maafkan kalau review saya ini agak terlalu arsitektural yaa, karena memang itu bidang ilmu saat kuliah :mrgreen:

Desain interior bagian Layanan Anak ini memang tidak wah, tapi tempatnya bersih, sejuk dan nyaman. Suasananya asyik sekali untuk berlama-lama membaca buku. Meja kursinya berkualitas sangat baik (orang dewasa juga bisa duduk), dengan warna-warna cerah, dan diletakkan agak jarang, sehingga anak-anak masih bisa lari-larian sedikit. Emak-emak dan bapak-bapak pasti tau ya, ada beberapa anak yang kalau jalan itu seperti berlari, padahal dia gak sedang main (lirik anak sendiri 😂).

Bukunya ada banyaak, mulai ensiklopedi, buku prakarya, buku belajar bahasa (tadi cuma kelihatan Inggris dan Arab), buku cerita reliji, buku informasi tanaman dan hewan, buku cerita terjemahan dan bilingual, banyak bener. Untuk buku cerita yang cocoknya untuk kelompok umur 10 tahun ke bawah, rak bukunya paling tinggi cuma 2 rak, ergonomis sesuai ukuran tubuh anak, sehingga anak-anak tetap bisa ambil sendiri bukunya tanpa bantuan orang dewasa ☺

Dan terjadilah, sedang asyiknya baca buku, si adek (4 yo) tiba-tiba perlu ke kamar mandi, dan katanya,”Aduh, udah gak tahan lagi nih, Bunda!”. Saya pun agak panik, lihat dimana posisi kamar mandi sambil doa mudah-mudahan tempatnya gak jauh. Eeh, ternyata memang begitu keluar dari Layanan Anak, cuma jalan 5 langkah terus dapat deh kamar mandinya. Yeay! 😄 Nah, para arsitek, jangan terlalu jauh meletakkan kamar mandi dari fasilitas untuk anak di manapun juga yah :mrgreen:

Yuk, bapak ibu yang di Medan, bawa anak-anak main ke sini. Tempatnya mudah dijangkau. Sebelum masuk, simpan tas (besar) dan jaket di Loker dekat area parkir, gratis. Setelah masuk ke gedung utama, Bagian Layanan Anak ada tepat di sisi kanan setelah pintu utama, di seberang meja pendaftaran anggota. Ohya, kalau mau pinjam bukunya harus daftar jadi anggota dulu ya ☺ See you there next time!

Posted in Home Education

Alyssa’s Moment 26/12/16

​Kebiasaan Dekcut (3 tahun 10 bulan) ketika bangun tidur pagi adalah ngulet-ngulet, sambil saya peluk-peluk. Pagi ini setelah menekan-nekan hidung saya dia bertanya:

“Bun, kenapa hidung ada lubangnya?” 

Saya: “Coba adek tutup lubang hidung adek”

*patuh* lalu….

“Adek jadi gak bisa bernapas lho buuuunnn!!” 

😄😄

Lalu saya bilang,”Jadi apa gunanya lubang hidung?”

Nah, dia jadi bisa menjawab sendiri deh 🙂

Bu Wina Risman bilang, ajarkan anak Thinking Skills, bukan sekedar menjawab semua pertanyaannya. Entah cara saya sudah benar atau tidak (minimal ke arah yang benar), but at least I tried

Mission accomplished 😎😎

Posted in Book review

[Book Review] Berjalan Di Atas Cahaya

​Judul buku: Berjalan Di Atas Cahaya

Penulis: Hanum Salsabila Rais

Buku ini adalah kumpulan kisah perjalanan Hanum Salsabila Rais sebagai penulis utama, serta dua orang kontributor lainnya, Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Terdiri atas 20 kisah, secara umum menceritakan perjuangan ketiga penulis selama menjadi anak rantau di Eropa, khususnya berkaitan dengan kesulitan, kemudahan dan hikmah yang mereka dapatkan selama hidup sebagai seorang muslim di sebuah negara sekuler. Beberapa kisah menceritakan perjuangan mereka untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Islam, terutama dalam berhijab dan melaksanakan shalat. Ada juga kisah tentang warga Eropa yang memeluk agama Islam. Selain itu, beberapa kisah juga menceritakan kemudahan yang didapatkan penulis dari persahabatannya dengan teman-teman mereka yang beragama Kristen, bahkan yang dibesarkan dalam keluarga komunis.

Ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, namun juga bukan gaya bahasa sehari-hari, menjadikan buku ini terkesan ringan, padahal pesan yang disampaikannya menurut saya cukup berat. Urutan kejadian ditulis secara detail, namun dengan tambahan hikmah dan renungan setiap penulis dari kisah yang mereka alami. 
Buku ini juga menampilkan beberapa foto yang berkaitan dengan setiap kisah. Foto favorit saya adalah sebuah foto yang memperlihatkan sebuah keluarga (4 orang Eropa dan 2 orang Asia) yang duduk di meja makan dan sedang berdoa sebelum makan. Tiga orang dalam foto itu berdoa dengan cara saling mengenggam kedua jemari tangannya, layaknya umat Nasrani ketika berdoa. Tiga orang lainnya menengadahkan jemari tangannya, layaknya umat Islam ketika berdoa. Ya. Kita bisa makan bersama dan hidup bersama-sama, meskipun cara berdoa kita berbeda. Bukankah itu lebih indah? 🙂 

Posted in Book review

[Book Review] Api Tauhid – Habiburrahman El Shirazy

Pengakuan 1: saya tidak tahu banyak tentang sejarah Islam. Oleh karena itu, ketika melihat sampul buku ini, saya bertanya-tanya, siapa sih Badiuzzaman Said Nursi? Pengakuan 2: saya kurang suka novel Ayat-Ayat Cinta (satu-satunya buku Habiburrahaman El Shirazy yang pernah saya baca), jadi tidak begitu semangat hendak membaca buku ini. Tapi berkaitan dengan Pengakuan 1, saya merasa harus menambah ilmu tentang sejarah Islam, yo wis masuk daftar to read :p

Dengan harap-harap cemas saya membaca ini, apakah akan banyak drama yang menakjubkan seperti novel Ayat-Ayat Cinta, sehingga cerita dan konfliknya seperti sinetron Ramadhan? Bab pertama langsung diberi konflik yang cukup membuat saya penasaran. Dan ternyata, buku ini menceritakan kisah beberapa pemuda yang menceritakan kisah hidup Badiuzzaman Said Nursi. Jadi kalau kau baca buku ini, kau dapat dua cerita, sekali tepuk dua nyawa.

Awalnya sedikit bingung dengan pergantian tokoh dan setting, tapi lama kelamaan terbiasa, dan terus terang, saya lebih terhanyut pada kisah Badiuzzaman Said Nursi dibanding tokoh-tokoh Fahmi, Subki, Aysel dan lainnya. Sungguh manusia yang luar biasa Badiuzzaman Said Nursi itu. Kecerdasannya, istiqomahnya dan kecintaannya pada Allah membuat saya merasa malu dan berkaca-kaca dan berpikir, seperti inilah contoh orang yang harus kita teladani selain Rasulullah. Pemikiran-pemikirannya sangat relevan dilaksanakan hingga sekarang, dimana beliau mengatakan bahwa kebodohan, kemiskinan dan perpecahan adalah musuh utama dalam menegakkan agama Allah. Sudah sepatutnya kita sekarang menjaga umat Islam dari kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.

Buku ini juga menceritakan dengan cukup detail tentang perubahan Turki menjadi negara sekuler yang membuat saya ternganga. Seperti inilah sekulernya Turki, hingga azan pun saat itu tidak boleh berbahasa Arab. Sementara kebanyakan orang menyalahkan Mustafa Kemal Attaturk, saya menganggap ini adalah akibat pendidikan sekuler ala Eropa, baik itu secara fisik maupun sistem, yang sudah diterapkan kekhalifahan Turki bertahun-tahun sebelumnya. Ibaratnya, kesalahan bertahun-tahun sebelumnya akhirnya menyerang balik pada Turki sendiri. Dan sistem pendidikan sekuler ala Eropa itulah yang ditentang Badiuzzaman Said Nursi. Semoga kesalahan ini tidak lagi kita ulangi, baik itu dalam sistem kenegaraan, maupun dalam pendidikan keluarga.

Sementara untuk kisah Fahmi, tokoh utama buku ini, sepertinya hanya cerita sampingan, penarik minat, agar orang-orang mau membaca kisah sejarah Islam, dibarengi dengan kisah percintaan orang muda. Dan untuk ini, saya acungi dua jempol untuk Habiburrahman El-Shirazy. Alhamdulillah, melalui buku ini pengetahuan saya tentang sejarah dan tokoh Islam bertambah. I think it’s a must read 🙂

Bisa dibaca juga di sini