Posted in Book review

[Book Review] Berjalan Di Atas Cahaya

​Judul buku: Berjalan Di Atas Cahaya

Penulis: Hanum Salsabila Rais

Buku ini adalah kumpulan kisah perjalanan Hanum Salsabila Rais sebagai penulis utama, serta dua orang kontributor lainnya, Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Terdiri atas 20 kisah, secara umum menceritakan perjuangan ketiga penulis selama menjadi anak rantau di Eropa, khususnya berkaitan dengan kesulitan, kemudahan dan hikmah yang mereka dapatkan selama hidup sebagai seorang muslim di sebuah negara sekuler. Beberapa kisah menceritakan perjuangan mereka untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Islam, terutama dalam berhijab dan melaksanakan shalat. Ada juga kisah tentang warga Eropa yang memeluk agama Islam. Selain itu, beberapa kisah juga menceritakan kemudahan yang didapatkan penulis dari persahabatannya dengan teman-teman mereka yang beragama Kristen, bahkan yang dibesarkan dalam keluarga komunis.

Ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, namun juga bukan gaya bahasa sehari-hari, menjadikan buku ini terkesan ringan, padahal pesan yang disampaikannya menurut saya cukup berat. Urutan kejadian ditulis secara detail, namun dengan tambahan hikmah dan renungan setiap penulis dari kisah yang mereka alami. 
Buku ini juga menampilkan beberapa foto yang berkaitan dengan setiap kisah. Foto favorit saya adalah sebuah foto yang memperlihatkan sebuah keluarga (4 orang Eropa dan 2 orang Asia) yang duduk di meja makan dan sedang berdoa sebelum makan. Tiga orang dalam foto itu berdoa dengan cara saling mengenggam kedua jemari tangannya, layaknya umat Nasrani ketika berdoa. Tiga orang lainnya menengadahkan jemari tangannya, layaknya umat Islam ketika berdoa. Ya. Kita bisa makan bersama dan hidup bersama-sama, meskipun cara berdoa kita berbeda. Bukankah itu lebih indah? :) 

Posted in Book review

[Book Review] Api Tauhid – Habiburrahman El Shirazy

Pengakuan 1: saya tidak tahu banyak tentang sejarah Islam. Oleh karena itu, ketika melihat sampul buku ini, saya bertanya-tanya, siapa sih Badiuzzaman Said Nursi? Pengakuan 2: saya kurang suka novel Ayat-Ayat Cinta (satu-satunya buku Habiburrahaman El Shirazy yang pernah saya baca), jadi tidak begitu semangat hendak membaca buku ini. Tapi berkaitan dengan Pengakuan 1, saya merasa harus menambah ilmu tentang sejarah Islam, yo wis masuk daftar to read :p

Dengan harap-harap cemas saya membaca ini, apakah akan banyak drama yang menakjubkan seperti novel Ayat-Ayat Cinta, sehingga cerita dan konfliknya seperti sinetron Ramadhan? Bab pertama langsung diberi konflik yang cukup membuat saya penasaran. Dan ternyata, buku ini menceritakan kisah beberapa pemuda yang menceritakan kisah hidup Badiuzzaman Said Nursi. Jadi kalau kau baca buku ini, kau dapat dua cerita, sekali tepuk dua nyawa.

Awalnya sedikit bingung dengan pergantian tokoh dan setting, tapi lama kelamaan terbiasa, dan terus terang, saya lebih terhanyut pada kisah Badiuzzaman Said Nursi dibanding tokoh-tokoh Fahmi, Subki, Aysel dan lainnya. Sungguh manusia yang luar biasa Badiuzzaman Said Nursi itu. Kecerdasannya, istiqomahnya dan kecintaannya pada Allah membuat saya merasa malu dan berkaca-kaca dan berpikir, seperti inilah contoh orang yang harus kita teladani selain Rasulullah. Pemikiran-pemikirannya sangat relevan dilaksanakan hingga sekarang, dimana beliau mengatakan bahwa kebodohan, kemiskinan dan perpecahan adalah musuh utama dalam menegakkan agama Allah. Sudah sepatutnya kita sekarang menjaga umat Islam dari kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.

Buku ini juga menceritakan dengan cukup detail tentang perubahan Turki menjadi negara sekuler yang membuat saya ternganga. Seperti inilah sekulernya Turki, hingga azan pun saat itu tidak boleh berbahasa Arab. Sementara kebanyakan orang menyalahkan Mustafa Kemal Attaturk, saya menganggap ini adalah akibat pendidikan sekuler ala Eropa, baik itu secara fisik maupun sistem, yang sudah diterapkan kekhalifahan Turki bertahun-tahun sebelumnya. Ibaratnya, kesalahan bertahun-tahun sebelumnya akhirnya menyerang balik pada Turki sendiri. Dan sistem pendidikan sekuler ala Eropa itulah yang ditentang Badiuzzaman Said Nursi. Semoga kesalahan ini tidak lagi kita ulangi, baik itu dalam sistem kenegaraan, maupun dalam pendidikan keluarga.

Sementara untuk kisah Fahmi, tokoh utama buku ini, sepertinya hanya cerita sampingan, penarik minat, agar orang-orang mau membaca kisah sejarah Islam, dibarengi dengan kisah percintaan orang muda. Dan untuk ini, saya acungi dua jempol untuk Habiburrahman El-Shirazy. Alhamdulillah, melalui buku ini pengetahuan saya tentang sejarah dan tokoh Islam bertambah. I think it’s a must read🙂

Bisa dibaca juga di sini

Posted in Uncategorized

[Book Review] 99 Cahaya di Langit Eropa

Mungkin memang seperti inilah cara wartawan menulis ya. Gaya Hanum Salsabiela Rais menulis mirip seperti gaya Anwar Fuadi, seperti menulis reportasi perjalanan. Jadi menurut saya gaya bahasa novel ini biasa saja. Tidak indah dan puitis (which I love) seperti beberapa penulis Indonesia lain.

Tapi buku ini mempunyai kelebihan lain. Selain settingnya di Eropa, misi buku ini dalam kaitannya dengan agama Islam juga cukup menarik. Khususnya ketika tokoh buku ini pergi ke Paris (this part is my favorite), mengunjungi Musee du Louvre, dan pergi ke bagian Islamic Art. Saya tidak tahu bahwa museum ini memiliki bagian tersebut (jadi semakin ingin masuk ke sana, eaaaa :P). Bab kunjungan ke Paris ini menjadi favorit saya karena banyak hal mengejutkan yang diceritakan. Pertama tentang tekstil dari Arab yang digunakan bangsa Eropa yang katanya bertuliskan Laa Ilaaha Ilallah. Kedua, and this was really shocking me, adalah penataan kota Paris yang teratur berdasarkan satu sumbu. Penataan kota berdasarkan sumbu sebenarnya hal yang biasa di Eropa, yang merupakan tren penataan kota pada masa Arsitektur Renaisans. Tapi jika penataan tersebut dikaitkan dengan keislaman Napoleon Bonaparte? Wow! Hal ini seperti teori-teori konspirasi ala novelnya Dan Brown. Sayangnya, ala Dan Brown ini cuma ada di kunjungan di Paris. Yah, mungkin di tempat lain tidak ada teori seperti itu, kok saya maksa? Hehehe…

Anyway, beberapa kejadian dalam buku ini dapat menjadi pembelajaran dan renungan bagi kita (khususnya muslim), untuk lebih menyelami makna dan beraktivitas layaknya seorang muslim yang diinginkan oleh Allah. Kesimpulannya berapa bintang? Lihat di sini ya

Posted in Uncategorized

[Book Review] Ayah – Andrea Hirata

Saya sangat menyukai gaya bahasa Andrea Hirata yang puitis dan penggunaan kalimat yang tidak biasa, serta leluconnya yang unik. Sejak buku Laskar Pelangi dan selanjutnya, hal inilah yang terus membuat saya selalu menanti karya Andrea Hirata. Hingga buku Ayah ini, gaya ini masih terus digunakan, meskipun ada beberapa kali Andrea memasukkan kalimat masa kini seperti “sebenarnya apa, ,sih, yang kita bicarakan ini?” (hal.24). Kemudian ada juga menggunakan kata mending (hal.39). Saya pribadi agak risih membacanya, karena seperti tidak nyambung dengan kalimat lainnya yang puitis dan bergaya Melayu. Untungnya hal seperti ini tidak begitu sering, dan kecewa saya terobati dengan puisi-puisi cinta Sabari yang manis dan Toharun yang suka menggunakan analogi matematika ketika mengejek Sabari, tapi hitungannya selalu salah ahahaha

Dari segi cerita, bagi saya ini mungkin karya Andrea Hirata yang paling sedih setelah Laskar Pelangi. Khususnya di bagian kisah Sabari dan anaknya Zoro, sukses membuat saya menangis. Sedih! Isi cerita ini cukup membekas, berbeda dengan dwilogi Padang Bulan yang saya sudah lupa ceritanya tentang apa (maaf ya, Bang Andrea….) Di bab-bab akhir, menurut saya beberapa cerita agak terlalu seperti adegan-adegan film Hollywood, bahkan saya sampai bisa membayangkan bentuk visualnya dalam bentuk film. Mungkin memang ada rencana untuk memfilmkan buku ini? Bisa jadi..dan saya restui🙂

Oh ya, entah mengapa tokoh wanita di buku ini, Marlena (panggilannya Lena),sama dengan nama anak perempuan yang muncul di cerita-cerita yang ada dalam buku pelajaran anak saya kelas 1 SD, yaitu Lena Marlena. Kebetulan? Entahlah…hehehe

————————————————————————————————————-

Berapa bintang yang saya berikan untuk buku ini? Sila lihat disini

Posted in Uncategorized

[Book Review] Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam

Tidak banyak buku tentang sejarah Islam yang pernah saya baca. Saya pernah memulai membaca buku kisah hidup Nabi Muhammad SAW dan Fatimah Az Zahra (dua buku yang berbeda). Tapi tidak selesai karena membosankan dan tidak menarik.

Membosankan dan tidak menarik, bukanlah kata yang tepat untuk mendeskripsikan buku karangan Tamim Ansary ini. Buku ini tidak seperti buku sejarah, tapi seperti novel dengan latar belakang sejarah. Perkembangan narasinya cepat, tidak bertele-tele. Bahasa yang digunakan juga umum, hanya sedikit menggunakan istilah-istilah fiqih Islam yang terkadang dapat membingungkan pembaca. Jikapun ada, maka secara ringkas penulisnya akan menjelaskan. Oleh karena itu, buku ini mudah dibaca, baik itu oleh muslim, maupun pembaca yang beragama lain.<br><br>Salah satu yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini adalah Tamim Ansary juga memasukkan ringkasan sejarah Eropa dan menceritakan bagaimana bertemunya kedua peradaban ini, yang satu berlatar agama Kristen dan satunya lagi berlatar agama Islam. Ketika Kekhalifahan Islam sedang mencapai puncak kejayaan, pada saat yang bersamaan apa yang sedang terjadi di Eropa? Jika pada masa itu umat Islam banyak memiliki ahli-ahli sains, mengapa yang memberikan pengaruh pada perkembangan teknologi dunia adalah peristiwa Revolusi Industri di Inggris, dan bukannya dari umat Islam? Bagaimana awal mulanya seperti ada semacam permusuhan antara umat Kristen-Islam dan Islam-Yahudi padahal sebelumnya semuanya damai? Di buku ini Tamim Ansary menceritakan teorinya.

Seperti biasa, sejarah adalah peristiwa yang diceritakan ulang menurut subjektivitas penulisnya. Begitu juga dengan buku ini. Tamim Ansary banyak menuliskan pendapatnya terhadap berbagai peristiwa yang terjadi berkaitan dengan perkembangan agama Islam. Opininya terbuka, bebas, jadi sebagai pembaca kita harus siap menerima kritik Tamim Ansary terhadap kaum muslim. Selain itu, buku ini juga sedikit memasukkan referensi, tapi sepertinya ini merupakan konsekuensi agar buku ini tidak membosankan. Karena banyak subjektivitas dan minim referensi, maka menurut saya, sebaiknya setelah (atau sebelum) membaca buku ini, kita membaca juga buku-buku sejarah Islam lainnya untuk memperkaya referensi kita. Selain itu, rasanya akan lebih baik jika ada daftar khalifah yang pernah memimpin kekhalifahan Islam dan tahunnya di bagian lampiran. Hal ini akan sangat membantu pembaca (salah satunya saya hehehe) yang tidak hafal nama-nama khalifah Islam dan tahun-tahun mereka berkuasa. Namun secara umum, buku ini sangat layak dibaca untuk mengenal sejarah Islam. Bagi pemula, buku ini nyaman dibaca untuk memulai mengenal sejarah Islam. Bagi pembaca sejarah Islam tingkat lanjut, buku ini menyajikan pendapat yang baru, yang berbeda. Tapi tentunya Anda harus membuka pintu pemikiran Anda lebar-lebar🙂

_______________________________________________________________

Jika suka, sila membaca di goodreads di link ini

Posted in Belajar Masak

Air Asam Jawa Untuk Batuk

Sebulan terakhir ini di rumah,aku dan anak-anak bolak balik kena batuk pilek. Termasuk si bayi 10 bulanku juga kena. Akhirnya browsing cari resep minuman atau jus apa yang bisa mengobati batuk,dapet deh resep ini.

Bahan:
50 gram asam jawa tanpa biji
2 sdm gula merah
1 1/2 gelas air mentah
Es batu secukupnya.

Cara membuat:
– Masak air bersama asam jawa hingga mendidih.Setelah mendidih, saring.
– Kemudian hasil saringan dimasak kembali bersama gula merah. Masak hingga mendidih. Lalu saring.
– Sajikan bersama es batu.

image

Efeknya? Setelah 2 hari minum ini, rasanya dahak lebih encer dan lebih mudah dibuang. Yang paling penting,aman buat ibu hamil, apalagi ibu menyusui yaa (aku maksudnya hahaha). Tapi untuk balita sebaiknya enggak ya,soalnya aseeemm😀

Oya,resepnya dapet di sini lhoo

Posted in Uncategorized

Jikalau…

Kemarin, aku punya cukup waktu luang untuk memanjakan diri berlama-lama di situs jejaring sosial. Update status, mengunggah foto, membaca lini masa. Beberapa status atau tulisan terbaru dari motivator dan penulis yang aku ikuti, semuanya berisi nasihat dan tulisan yang membuatku berpikir.

Kalau 10 tahun lalu, aku membaca apa yang kubaca kemarin, apa yang terjadi ya?

Kalau 10 tahun lalu, setiap hari aku membaca tulisan super dari Mario Teguh, apakah aku akan mengambil keputusan yang sama? Apakah aku akan menuruti nasihat super itu?

Kalau 10 tahun lalu, sudah ada Facebook dan Darwis Tere Liye sudah menuangkan tulisan-tulisannya di situs tersebut, apakah aku tetap akan jadi diriku yang sekarang?

Mungkin…yaaa…sangat mungkin,kalaupun 10 tahun lalu sudah ada Facebook dan nasihat dan tulisan super dari kedua orang yang kusebut itu aku baca, aku akan tetap mengambil keputusan yang sama. Karena Saufa 10 tahun lalu, adalah Saufa yang tidak peduli apa kata orang lain. Karena 10 tahun lalu, sudah ada orang-orang bijak yang memberikan peringatan padaku, namun tetap tak kuhiraukan.

Mungkin.

Bagaimanapun, aku tetap berandai…

Seandainya ya… 10 tahun lalu sudah ada Pak Mario Teguh dan Mas Darwis Tere Liye di Facebook…

Posted in Ayo Nyanyi!

Malaikat Juga Tahu

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri

Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Hampamu takkan hilang semalam oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri cintakulah yang sejati

Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi karena tak sanggup sendiri

Namun kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Namun kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
_________________________________________________________

»» Suka sekali lagu ini. Liriknya bagus dan daleemmm… Tapi maaf ya Mas Glenn Fredly, saya lebih suka versinya Mbak Dewi Lestari hehehe…

Posted in Belajar Masak

Gyeran Jjim (Korean Steamed Eggs)

Pernah lihat menu ini waktu nonton variety show dari Korea Selatan, Family Outing Season1. Karena kelihatannya mudah dan enak, jadi browsing cari resep dan dicoba. Yuk…

Bahan:
2 buah telur ayam
4 sdm air masak
1/2 sdt kecap ikan
1 sdm irisan daun bawang
merica secukupnya

Cara membuat:

Pecahkan telur dalam mangkuk tahan panas. Masukkan bahan-bahan lain,lalu aduk rata. Kukus selama kurang lebih 15 menit. Sajikan selagi panas.

Untuk 1 porsi.

Kecap ikan sudah asin,jadi aku gak tambahkan garam lagi. Tapi itu tergantung selera juga sih. Sepertinya semakin banyak air yang ditambahkan,maka teksturnya semakin halus,mirip tofu. Karena aku kurang suka tekstur seperti itu,jadi airnya dikurangi. Menu ini sehat lho,karena cuma dikukus. Selain cocok untuk balita,cocok juga untuk emak-emak yang diet,hahaha