Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Belajar Matematika Dasar Sesuai Gaya Belajar Anak (2)

​Hari ini saya akan mengajak Al belajar matematika dengan gaya belajar kinestetik. Kenapa harus gaya belajar kinestetik? Karena kemarin sudah lihat Al belajar matematika dengan cara visual. Jadi saya kok ingin coba belajar dengan gaya belajar kinestetik, ingin lihat Al berminat tidak dengan cara ini. Dan juga kebetulan peralatannya ada hehehe… 

Jadi menurut situs babycenter.com beberapa cara mengajarkan matematika dasar untuk balita dengan gaya belajar kinestetik adalah:

  • mengelompokkan barang-barang rumah tangga lalu menghitungnya;
  • bermain puzzle atau balok akan mengembangkan kemampuan matematis spasial anak;
  • menghitung biskuit atau snack lainnya. Untuk gaya belajar kinestetik, anak harus dilibatkan dalam aktivitas memindahkan bendanya dulu, lalu minta anak menghitung sambil memindahkan snack dari satu tempat ke tempat lain;
  • bermain pola. Contoh: berikan anak anggur hijau dan ungu, lalu minta ia menyusun pola anggur ungu – hijau – ungu – hijau – dst. Atau hijau – hijau – ungu – hijau – hijau – dst. 

Untuk aktivitas Al, saya mengajaknya membuat pola, tapi anggurnya saya ganti dengan kertas warna hijau dan jingga yang saya gunting berbentuk lingkaran. Kemudian saya minta dia menempelkan di kertas lain dengan pola hijau – jingga – hijau – dst. Sambil belajar matematika, sambil melatih motorik halus 😁

Ternyata, baru menempel 2 lingkaran lanjutan, Al sudah bosan, dan lari cari kegiatan lain ahahahahah

Apakah karena metodenya kinestetik, ataukah memang dia sedang tertarik dengan kegiatan lain saja ya? Entahlah..masih perlu observasi lanjutan sepertinya 😁

Advertisements
Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Belajar Matematika Sesuai Gaya Belajar Anak

​Saat ini Al sudah belajar di TK B. Lebih sering tidak masuknya sih sebenarnya 😂 Tapi saya lihat ia mulai sering mengulang angka 1 hingga 10. Beberapa kali terjadi ketika kami berkendara dengan mobil, ia mulai menghitung jumlah orang yang ada di dalam mobil. Biasanya kami naik mobil kalau pergi beramai-ramai dengan neneknya Delal atau dengan adik saya. Jadi Al selalu menghitung sendiri, kemudian melaporkan bahwa di mobil ini ada sekian orang.  

Situs babycenter.com menjelaskan beberapa cara yang bisa dipakai untuk mengajarkan matematika pada balita, sesuai dengan gaya belajarnya. Ternyata cara Al ketika menghitung jumlah orang di dalam mobil termasuk gaya belajar visual, yaitu menghitung jumlah benda yang terlihat di sekitar kita. Karena terlihat, maka cara ini cocok untuk anak visual. 

Berikut ini cara mengajarkan matematika dasar untuk balita dengan gaya belajar visual menurut babycenter.com.

Kemampuan dasar matematika untuk balita dengan gaya belajar visual:

  • ketika berkendara, carilah angka-angka yang terlihat di papan iklan, spanduk atau baliho, kemudian ajak anak melihatnya dan sebutkan angkanya;
  • buatlah titik-titik yang berbentuk angka 1 hingga 10, dan minta anak mengikuti/menyambungkan titik tersebut;
  • tulis nomor telepon di kertas/buku, lalu minta anak menekan tombol dengan angka yang sama di telepon/ponsel, sambil menyebutkan namanya;
  • menghitung benda-benda yang terlihat di sekitar anak.

Cara yang terakhirlah yang dipakai Al ketika menghitung jumlah orang yang ada di dalam mobil. Hingga saat ini, skor Al adalah visual 2 dan kinestetik 1 🙂

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Observasi Gaya Belajar Melalui Aktivitas Menunggu

​Salah satu cara melihat gaya belajar anak adalah dengan melihat apa yang dilakukan anak saat ia sedang menunggu sesuatu. Laman scholastic.com memiliki kuis ringkas untuk melihat kecenderungan gaya belajar anak. 

Salah satu pilihannya adalah, ketika menunggu sesuatu, anak auditori akan berbicara tak henti pada kita.  

Anak visual akan menulis atau menggambar sesuatu. 

Anak kinestetik akan melakukan kegiatan fisik, seperti membongkar tas kita atau lompat-lompat di tempat. 

Beberapa hari yang lalu Del ikut lomba mewarnai. Saya menunggunya bersama Al. Sambil menunggu pengumuman, ada beberapa acara yang disuguhkan panitia lomba. Del pergi ke dekat panggung bersama temannya untuk melihat acara tersebut. Selama menunggu, Al (4y6m) tetap bersama saya. Namun, meski ia membawa krayon, tapi ia tak mau menggunakannya. Jadi apa yang ia lakukan? 

Saat itu kami para orang tua peserta duduk selonjoran di karpet depan panggung. Al ke belakang badan saya, lalu manjat-manjat, kalau tidak menempelkan badannya punggung saja, kalau tidak pegang-pegang wajah saya dari belakang punggung saya. Jilbab yang saya pakai entah bagaimana bentuknya 😂 Sampai saat ini sudah 2 kali aktivitas saya fokuskan untuk observasi gaya belajar Al. Dan hasilnya masing-masing satu untuk auditori dan kinestetik. 

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Observasi Gaya Belajar Anak Melalui Ekspresi Emosi (2)

​Setelah beberapa kali menulis tentang observasi gaya belajar Del, berikutnya saya akan mengobservasi gaya belajar adiknya Al (4y6m). Pertama sekali saya akan observasi dari ekspresi emosi.

Anak auditori melampiaskan marahnya dengan berteriak dan menjerit. 

Anak visual melampiaskan marahnya dengan menggambar atau menuliskan perasaannya. 

Anak kinestetik melampiaskan marahnya dengan menghentakkan kaki dan atau melempar barang. 

Untuk Al saya tidak ragu lagi. Untuk kriteria ini dia ada di kategori Auditori. Setiap kali ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, atau ada seseorang mengganggunya, dia akan langsung protes dengan teriakan. Kalau kita tanya apa yang salah, dia akan menjelaskan sambil berteriak juga. Meski saya sudah ajarkan bagaimana menyatakan perasaannya tanpa berteriak, tapi sampai hari ini saya belum berhasil 😥 Yah, walaupun tipenya seperti itu, tapi untuk cara mengekspresikan emosi ini tetap harus diubah kan? Pe er untuk saya.

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Persiapan Ulangan: Belajar di Rumah Ala Anak Visual

​Kali ini saya akan berbagi cerita mengenai persiapan ulangan Del. Selain ujian mid dan akhir semester, Del juga ada ulangan bulanan di sekolah, yang biasanya membahas satu bab saja dari buku. Untuk belajar di rumah, awalnya saya membuat soal tertulis, lalu Del mengerjakannya. Ketika ada soal yang dia tidak paham, baru dibahas bersama sambil melihat buku. Kemudian emaknya mulai kumat malesnya. Kok capek ya menulis soal ini…langsung ditanyain lisan aja ah untuk pelajaran non matematika 😁

Masalahnya, ternyata Del lebih sulit fokus. Setiap saya selesai membacakan pertanyaan, dia selalu nanya balik, “Ha? Apa tadi pertanyaannya, bun?” 

Lalu untuk soal pilihan berganda sama reaksinya, “Ha? Apa tadi yang pilihan B, bun?”

Saya ulang. Eh..ditanya lagi, “Kalau yang C?” 

Biasanya mengerjakan soal tertulis cuma makan waktu 10 menit, jadi molor sampai setengah jam! Belum lagi yang bacain soal jadi emosi jiwa 😂 

Maka akhirnya kembalilah pakai sistem awal. Saya buat soal (biasanya saya pilih soal yang sulit saja), lalu saya serahkan kertasnya untuk dikerjakan. Setelah itu baru kami bahas bersama. Cukup 10 menit saja!!! 😄😄 

Kesimpulan: anak dengan gaya belajar visual lebih mudah belajar dengan metode visual juga (melihat gambar, mengerjakan soal tertulis) daripada belajar dengan cara lisan.

#Tantangan10Hari #Level4 #Day6 #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Gaya Belajar Visual: Instruksi Tertulis atau Perkataan?

​Setelah beberapa kali observasi, saya menemukan bahwa Del punya kecenderungan ke gaya belajar visual, dengan sedikit kinestetik. Kali ini saya akan mencoba menerapkan teknis gaya belajar visual untuk memecahkan satu masalah yang selalu terjadi setiap hari dengan Del. 

Masalahnya adalah, setiap pulang sekolah, sangat sulit membuatnya disiplin berganti pakaian rumah, meletakkan seragam kotor ke tempatnya, menggantung pakaian atau jilbab yang masih bersih dan meletakkan kaus kaki dan sepatu ke tempatnya :'(Meski saya sudah menerapkan pembelajaran di Game Level 2 dengan mengingatkannya langsung, tapi lebih sering Del meletakkan saja barang-barang tadi di tempat ia membukanya, SETIAP HARI, membuat saya sedikit frustrasi 😥

Nah, karena Del cenderung visual, saya berpikir, apakah karena itu dia tidak ngeh dengan instruksi perkataan langsung? Karena instruksi dengan perkataan langsung lebih cocok untuk gaya belajar auditori? Maka instruksi tersebut pun saya tulis! 

Instruksi tertulis untuk Del Si Visual 🙂

Hasilnya? Alhamdulillaah…kemarin begitu pulang sekolah, saya cuma mengingatkan Del untuk membaca kertas tugasnya, dan sesudahnya dia langsung mengerjakan hal-hal yang saya tulis. Aaah…terharu saya #tangisbahagia 😂😂 

Meski Del tetap harus diingatkan juga, tapi paling tidak saya cuma mengingatkan satu hal, yaitu membaca kertas tugasnya. Dan bukannya mencerewetinya sampai lima kali 😁

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Observasi Gaya Belajar Melalui Ekspresi Emosi

​Wow…ternyata gaya belajar anak juga dapat dilihat dari caranya mengekspresikan kemarahannya. 

Menurut scholastic.com ketika anak-anak marah, dia akan mengeluarkan ekspresi marahnya dengan gaya yang berbeda-beda. Dan itu berhubungan dengan gaya belajarnya. 
Anak auditori melampiaskan marahnya dengan berteriak dan menjerit. 
Anak visual melampiaskan marahnya dengan menggambar atau menuliskan perasaannya. 
Anak kinestetik melampiaskan marahnya dengan menghentakkan kaki dan atau melempar barang. 
Sounds familiar? 😁
Untuk hal ini, saya coba mengingat kembali bagaimana Del (8y4m) bereaksi ketika ia emosi. Del tidak pernah menggambarkan perasaannya. Dia pernah menulis yang menyatakan ia kesal (semacam diary), tapi saya cuma mendapati itu sekali. Ia sering berteriak, tapi tidak menjerit. Berteriak ini umumnya kalau ia bertengkar dengan adiknya, yang biasanya juga berteriak. Tapi kalau tidak ada orang lain yang terlibat, misalnya ia kesal karena gagal melakukan sesuatu, biasanya ia melempar barang. 

Seperti kasus kemarin, ketika ia mencoba buat efek domino, ternyata di percobaan pertama tidak berhasil. Saya dorong ia mencoba lagi. Ternyata di percobaan kedua juga tidak berhasil, malah menurutnya lebih buruk dari yang pertama. Serta merta ia pun menghancurkan domino yang ia susun 😂 
Beberapa kali di kasus-kasus yang lebih lama, kalau ia kesal, ia menyatakan dengan suara keras apa yang membuat ia kesal, kadang sampai berteriak, menghentakkan kaki kuat-kuat lalu menyepi ke satu tempat. Sepertinya dari sisi ini, Del campuran kinestetik dan auditori ya? 🙂

Posted in Bunda Sayang, Home Education, ibu profesional, IIP

Observasi Gaya Belajar Anak Melalui Pilihan Ekskul

​Hari ke-3 observasi gaya belajar anak. Kali ini saya akan mengamati dari pilihan kegiatan tambahan setelah sekolah. Di salah satu artikel, disebutkan bahwa dari pilihan kegiatan tambahan anak-anak, dapat dilihat tipe gaya belajar anak. Hal ini agak mirip dengan jenis mainan yang anak pilih ketika diberi beberapa alternatif. 

Di sekolah Del, ada kegiatan ekstra kurikuler yang bisa dipilih ketika ia sudah kelas 3. Ekskul ini dipilih baru 2 minggu yang lalu, setelah kegiatan belajar mengajar dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan. Di sekolah Del ada ekskul tari, futsal, bahasa inggris, coloring, drama, drum band dan pianika. Di beberapa artikel, disebutkan beberapa kegiatan yang masuk ke gaya belajar tertentu, antara lain: tari dan futsal masuk ke gaya belajar kinestetik, coloring masuk ke gaya belajar visual, sedangkan drama masuk ke kategori auditori. Tidak ada sumber yang menyebutkan kegiatan lainnya, tapi menurut saya pribadi, bahasa inggris masuk ke gaya belajar visual, karena salah satu artikel menyebutkan bahwa anak dengan gaya belajar visual dapat dibedakan menjadi image smart (belajar melalui gambar) dan word smart (belajar melalui tulisan atau kata-kata). Sedangkan pianika dan drum band mungkinkah masuk ke kategori auditori, karena berhubungan dengan indra pendengaran? Kalau yang ini saya tidak yakin 😅
Jadi, ekskul apakah yang dipilih Del?

Dia piliiih…..(drum roll)…….tari!!! 

Awalnya saya agak menyarankan dia untuk ikut ekskul yang tidak banyak gerak fisik, maksudnya supaya ia tidak terlalu capek. Tapi setelah saya rem mulut saya agar tidak terlalu mencampuri pilihannya, dia memutuskan ikut ekskul tari. Dan dia sangat senang! Walaupun saya tau ia capek, tapi wajahnya selalu riang selepas ikut ekskul tari 🙂
Jadi skor sementara untuk gaya belajar Del adalah: Visual 2, kinestetik 1, auditori 0. Tidak ada program Excell di hp saya, dan belum sempat buka laptop untuk membuat tabelnya…jadi hasil pengamatannya pakai sistem skor dulu ajah 😂😂😂

Posted in Bunda Sayang, Home Education, ibu profesional, IIP

Observasi Gaya Belajar Anak (Melalui Sikap Membaca) – Hari 2

​Setelah menjelajah di internet dan membaca dari berbagai laman, saya merumuskan beberapa poin tambahan untuk diobservasi, selain yang sudah ada di materi Kelas Bunsay. Beberapa poin check  list memiliki pilihan yang berbeda yang sejujurnya sedikit membuat saya bingung 😁, tapi ada beberapa poin yang sama, salah satunya adalah perihal kegiatan membaca buku. Hampir di semua materi menyatakan, sikap membaca buku yang sama untuk anak dengan tipe belajar auditori, visual dan kinestetik, yang saya rangkum sebagai berikut.

Sikap membaca buku dikaitkan dengan gaya belajar:
1. Tipe Auditori: jika membaca sendiri, ia senang membaca dengan mengucapkan bahan bacaannya;

2. Tipe Visual: jika membaca sendiri, ia lebih senang membaca dalam hati;

3. Tipe Kinestetik: ketika membaca sendiri, ia banyak bergerak/tidak bisa duduk diam. 

Poin di atas sayangnya hanya bisa dilakukan untuk anak yang sudah bisa membaca, jadi pengamatan ini tidak bisa saya lakukan untuk Al (4y6m). Untuk Al, saya cuma bisa menyimpulkan bahwa dari sikap membaca, ia bukan tipe kinestetik, karena ia bisa duduk diam ketika saya bacakan buku.

Sedangkan untuk Del (8y4m), untuk sikap membaca ini, jika saya melihat ke belakang setiap kali dia membaca, maka Del bertipe visual. Dulu waktu ia belum bisa baca, ia pernah ‘membaca’ buku dengan bersuara, dengan cerita buatannya sendiri. Namun sejak bisa baca, itu tidak pernah dilakukannya lagi. Dia selalu ambil posisinyaman, lalu diam kembaca sampai bukunya selesai. Jadi untuk Del, sudah 2 poin untuk Gaya Belajar Visual. 

Jangan-jangan sama dengan emaknya kah? Hahaha rasanya masih terlalu dini untuk menyimpulkan 🙂