Posted in Bunda Sayang, For Things To Change, I Must Change First, ibu profesional, IIP

Tantangan 10 Hari: Meningkatkan Minat Baca Keluarga (Hari 3)

​Pohon literasi sudah dibuat dan ditempel. Anak-anak sudah punya masing-masing 1 daun. Di hari ke-3, Del ingin menambah 1 daun. Maka dia mengambil satu buku berjudul Mimpi Beruang Coklat. Buku ini berisi beberapa buah cerita di dalamnya. Del membaca cerita berjudul Kontes Menyanyi Mimi.

Buku “Mimpi Beruang Coklat” yang dibaca Del

Tak lama Del melapor sudah selesai membaca. Dan saya berniat menanyakan isi cerita padanya, lalu mendiskusikannya bersama. Tapi apa daya, saat itu Al punya banyak ‘wish list’ ini itu agak mendesak yang menyebabkan saya tidak bisa bicara dengan si kakak 😥 Jadi PR untuk besok-besok nih. Sepertinya bisa dijadikan waktu berdua saja dengan si kakak, agar bisa membaca bersama dan mendiskusikannya tanpa gangguan.

Advertisements
Posted in Bunda Sayang, For Things To Change, I Must Change First, ibu profesional, IIP

Tantangan 10 Hari: Membuat Pohon Literasi (Hari 2)

​Hari ini waktunya eksekusi membuat Pohon Literasi! Yeay! 

Apa sih Pohon Literasi? Pohon Literasi adalah metode menyenangkan dan kreatif agar setiap anggota keluarga terpacu dalam membaca buku. Jadi, setiap selesai satu buku (atau beberapa bab saja juga boleh), maka orang yang bersangkutan boleh mengambil satu lembar ‘daun’ dan menempelnya di pohon literasi. Seru kan? 🙂

Sehabis makan siang, saya dan anak-anak berkumpul untuk membuatnya. Sebenarnya sih saya sendiri yang membuat batang pohonnya…para gadis sibuk sendiri dengan prakarya masing-masing, sambil rebutan peralatan dengan emaknya 😂 

Pohon Literasi

Ketika saya sedang membuat daun, Del mulai tertarik melihat apa yang saya kerjakan. Saya sedang menjiplak pola daun pohon mapel di kertas origami, Del lalu meminta agar dia yang menggunting. Pohon literasi kami cukup satu pohon saja…dan saya menggunakan 4 warna dari paket kertas origami, masing-masing mewakili 1 anggota keluarga. Saya minta Del dan Al memilih warna daun untuk mereka masing-masing. Del memilih warna hijau muda, Al oranye. Jadi untuk saya kuning, dan paksu warna hijau daun.

Daun Mapel Warna Warni 🙂

Oya…tapi kenapa daunnya harus daun mapel ya? Soalnya emaknya Delal ingin betul melihat langsung pohon mapel di luar negeri. Belum kesampaian… 😆😆

Selesai eksekusi pohon, Delal berebut ingin menempel daun masing-masing. Maka saya jelaskanlah peraturannya. Sehabis dijelaskan, keduanya langsung ambil buku untuk dibaca. Al yang belum bisa baca, mengambil buku favoritnya, di setiap halaman mengarang sendiri cerita 1 kalimat, lalu di halaman terakhir mengumumkan, “Yey! Adek udah siap baca!” 😂😂

Al sedang ‘membaca’ buku 😁

Yah sudahlah…tak apa..jadi Delal masing-masing sudah punya 1 lembar daun di Pohon Literasi kami :):)

Posted in Bunda Sayang, For Things To Change, I Must Change First, ibu profesional, IIP

Tantangan 10 Hari: Meningkatkan Minat Baca Keluarga (Hari 1)

​Tantangan 10 hari kali ini di Kelas Bunsay adalah menumbuhkan minat baca keluarga 😍  

Sejak kecil, saya memang sudah hobi baca. Paksu juga suka baca. Dan meski anak-anak belum mendeklarasikan (tsaah bahasanya 😁) bahwa hobinya baca, namun menjelang tidur biasanya mereka juga minta dibacakan buku.

Permasalahannya untuk saya dan suami, karena kesibukan, membaca dijadikan alternatif ketika ada waktu luang…jadi merupakan aktivitas di pilihan terakhir. Sedangkan untuk anak-anak, jam membaca belum terjadwal. Jadi saya atau paksu hanya membacakan ketika diminta saja. Nah…maka target saya di Tantangan Level 5 Kelas Bunsay ini adalah menjadwalkan aktivitas baca agar jumlah buku yang dibaca meningkat. Sedangkan untuk saya pribadi dan si sulung saya Del (8y6m), saya menambahkan target menulis review buku. 

Kemarin saya mulai menceritakan kepada Del tentang Pohon Literasi. Del tidak paham maksud saya, tapi penasaran. Tidak apa…nanti juga paham kalau sudah praktik 🙂

Kemudian saya merencanakan jadwal membaca untuk anak-anak. Saya rencanakan jadwal membaca wajib anak-anak adalah hari Senin, Selasa dan Kamis menjelang jam tidur. Tentu saja diperbolehkan jika mereka ingin membaca di luar hari tersebut. 

Saya juga merencanakan jenis buku yang sebaiknya dibaca anak. Perencanaan jenis buku ini maksudnya agar mengontrol jenis buku yang dibaca, agar anak saya tidak baca buku fiksi melulu, tapi juga membaca buku keteladanan Rasul misalnya. Dan tentu jenis buku ini akan disarankan dengan cara yang super halus 😁

Jenis buku yang saya rencanakan untuk anak-anak:

Del (8y6m) :

  1. Surat-surat pendek di juz 30 dan terjemahannya (beda dengan jam mengaji);
  2. Buku yang menambah wawasan Keislaman dan keteladanan Nabi dan Rasul;
  3. Buku wawasan pengetahuan umum;
  4. Buku fiksi sesuai umur.

Al (4y8m)

  1. Buku tentang keindahan dan kehebatan ciptaan Allah;
  2. Buku tentang adab dan perilaku anak sholeh
  3. Buku fiksi sesuai umur

Sedangkan jadwal membaca saya sendiri adalah hari Selasa, Rabu dan Jumat pagi, serta hari Minggu. Untuk saya sendiri, karena selama ini umumnya baca buku fiksi 🙊, jadi target saya adalah membaca buku parenting dan artikel/jurnal (tiap minggu satu jurnal!) yang berkaitan dengan pekerjaan saya sebagai dosen.

Nah…perencanaan sudah dibuat. Peralatan untuk membuat pohon literasi juga sudah ada (karton dan origami). Maka tahap selanjutnya adalah membuat pohon literasi bersama anak-anak 😄😄

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Belajar Matematika Dasar Sesuai Gaya Belajar Anak (2)

​Hari ini saya akan mengajak Al belajar matematika dengan gaya belajar kinestetik. Kenapa harus gaya belajar kinestetik? Karena kemarin sudah lihat Al belajar matematika dengan cara visual. Jadi saya kok ingin coba belajar dengan gaya belajar kinestetik, ingin lihat Al berminat tidak dengan cara ini. Dan juga kebetulan peralatannya ada hehehe… 

Jadi menurut situs babycenter.com beberapa cara mengajarkan matematika dasar untuk balita dengan gaya belajar kinestetik adalah:

  • mengelompokkan barang-barang rumah tangga lalu menghitungnya;
  • bermain puzzle atau balok akan mengembangkan kemampuan matematis spasial anak;
  • menghitung biskuit atau snack lainnya. Untuk gaya belajar kinestetik, anak harus dilibatkan dalam aktivitas memindahkan bendanya dulu, lalu minta anak menghitung sambil memindahkan snack dari satu tempat ke tempat lain;
  • bermain pola. Contoh: berikan anak anggur hijau dan ungu, lalu minta ia menyusun pola anggur ungu – hijau – ungu – hijau – dst. Atau hijau – hijau – ungu – hijau – hijau – dst. 

Untuk aktivitas Al, saya mengajaknya membuat pola, tapi anggurnya saya ganti dengan kertas warna hijau dan jingga yang saya gunting berbentuk lingkaran. Kemudian saya minta dia menempelkan di kertas lain dengan pola hijau – jingga – hijau – dst. Sambil belajar matematika, sambil melatih motorik halus 😁

Ternyata, baru menempel 2 lingkaran lanjutan, Al sudah bosan, dan lari cari kegiatan lain ahahahahah

Apakah karena metodenya kinestetik, ataukah memang dia sedang tertarik dengan kegiatan lain saja ya? Entahlah..masih perlu observasi lanjutan sepertinya 😁

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Belajar Matematika Sesuai Gaya Belajar Anak

​Saat ini Al sudah belajar di TK B. Lebih sering tidak masuknya sih sebenarnya 😂 Tapi saya lihat ia mulai sering mengulang angka 1 hingga 10. Beberapa kali terjadi ketika kami berkendara dengan mobil, ia mulai menghitung jumlah orang yang ada di dalam mobil. Biasanya kami naik mobil kalau pergi beramai-ramai dengan neneknya Delal atau dengan adik saya. Jadi Al selalu menghitung sendiri, kemudian melaporkan bahwa di mobil ini ada sekian orang.  

Situs babycenter.com menjelaskan beberapa cara yang bisa dipakai untuk mengajarkan matematika pada balita, sesuai dengan gaya belajarnya. Ternyata cara Al ketika menghitung jumlah orang di dalam mobil termasuk gaya belajar visual, yaitu menghitung jumlah benda yang terlihat di sekitar kita. Karena terlihat, maka cara ini cocok untuk anak visual. 

Berikut ini cara mengajarkan matematika dasar untuk balita dengan gaya belajar visual menurut babycenter.com.

Kemampuan dasar matematika untuk balita dengan gaya belajar visual:

  • ketika berkendara, carilah angka-angka yang terlihat di papan iklan, spanduk atau baliho, kemudian ajak anak melihatnya dan sebutkan angkanya;
  • buatlah titik-titik yang berbentuk angka 1 hingga 10, dan minta anak mengikuti/menyambungkan titik tersebut;
  • tulis nomor telepon di kertas/buku, lalu minta anak menekan tombol dengan angka yang sama di telepon/ponsel, sambil menyebutkan namanya;
  • menghitung benda-benda yang terlihat di sekitar anak.

Cara yang terakhirlah yang dipakai Al ketika menghitung jumlah orang yang ada di dalam mobil. Hingga saat ini, skor Al adalah visual 2 dan kinestetik 1 🙂

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Observasi Gaya Belajar Melalui Aktivitas Menunggu

​Salah satu cara melihat gaya belajar anak adalah dengan melihat apa yang dilakukan anak saat ia sedang menunggu sesuatu. Laman scholastic.com memiliki kuis ringkas untuk melihat kecenderungan gaya belajar anak. 

Salah satu pilihannya adalah, ketika menunggu sesuatu, anak auditori akan berbicara tak henti pada kita.  

Anak visual akan menulis atau menggambar sesuatu. 

Anak kinestetik akan melakukan kegiatan fisik, seperti membongkar tas kita atau lompat-lompat di tempat. 

Beberapa hari yang lalu Del ikut lomba mewarnai. Saya menunggunya bersama Al. Sambil menunggu pengumuman, ada beberapa acara yang disuguhkan panitia lomba. Del pergi ke dekat panggung bersama temannya untuk melihat acara tersebut. Selama menunggu, Al (4y6m) tetap bersama saya. Namun, meski ia membawa krayon, tapi ia tak mau menggunakannya. Jadi apa yang ia lakukan? 

Saat itu kami para orang tua peserta duduk selonjoran di karpet depan panggung. Al ke belakang badan saya, lalu manjat-manjat, kalau tidak menempelkan badannya punggung saja, kalau tidak pegang-pegang wajah saya dari belakang punggung saya. Jilbab yang saya pakai entah bagaimana bentuknya 😂 Sampai saat ini sudah 2 kali aktivitas saya fokuskan untuk observasi gaya belajar Al. Dan hasilnya masing-masing satu untuk auditori dan kinestetik. 

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Observasi Gaya Belajar Anak Melalui Ekspresi Emosi (2)

​Setelah beberapa kali menulis tentang observasi gaya belajar Del, berikutnya saya akan mengobservasi gaya belajar adiknya Al (4y6m). Pertama sekali saya akan observasi dari ekspresi emosi.

Anak auditori melampiaskan marahnya dengan berteriak dan menjerit. 

Anak visual melampiaskan marahnya dengan menggambar atau menuliskan perasaannya. 

Anak kinestetik melampiaskan marahnya dengan menghentakkan kaki dan atau melempar barang. 

Untuk Al saya tidak ragu lagi. Untuk kriteria ini dia ada di kategori Auditori. Setiap kali ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, atau ada seseorang mengganggunya, dia akan langsung protes dengan teriakan. Kalau kita tanya apa yang salah, dia akan menjelaskan sambil berteriak juga. Meski saya sudah ajarkan bagaimana menyatakan perasaannya tanpa berteriak, tapi sampai hari ini saya belum berhasil 😥 Yah, walaupun tipenya seperti itu, tapi untuk cara mengekspresikan emosi ini tetap harus diubah kan? Pe er untuk saya.

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Persiapan Ulangan: Belajar di Rumah Ala Anak Visual

​Kali ini saya akan berbagi cerita mengenai persiapan ulangan Del. Selain ujian mid dan akhir semester, Del juga ada ulangan bulanan di sekolah, yang biasanya membahas satu bab saja dari buku. Untuk belajar di rumah, awalnya saya membuat soal tertulis, lalu Del mengerjakannya. Ketika ada soal yang dia tidak paham, baru dibahas bersama sambil melihat buku. Kemudian emaknya mulai kumat malesnya. Kok capek ya menulis soal ini…langsung ditanyain lisan aja ah untuk pelajaran non matematika 😁

Masalahnya, ternyata Del lebih sulit fokus. Setiap saya selesai membacakan pertanyaan, dia selalu nanya balik, “Ha? Apa tadi pertanyaannya, bun?” 

Lalu untuk soal pilihan berganda sama reaksinya, “Ha? Apa tadi yang pilihan B, bun?”

Saya ulang. Eh..ditanya lagi, “Kalau yang C?” 

Biasanya mengerjakan soal tertulis cuma makan waktu 10 menit, jadi molor sampai setengah jam! Belum lagi yang bacain soal jadi emosi jiwa 😂 

Maka akhirnya kembalilah pakai sistem awal. Saya buat soal (biasanya saya pilih soal yang sulit saja), lalu saya serahkan kertasnya untuk dikerjakan. Setelah itu baru kami bahas bersama. Cukup 10 menit saja!!! 😄😄 

Kesimpulan: anak dengan gaya belajar visual lebih mudah belajar dengan metode visual juga (melihat gambar, mengerjakan soal tertulis) daripada belajar dengan cara lisan.

#Tantangan10Hari #Level4 #Day6 #GayaBelajarAnak #KuliahBunsayIIP

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Gaya Belajar Visual: Instruksi Tertulis atau Perkataan?

​Setelah beberapa kali observasi, saya menemukan bahwa Del punya kecenderungan ke gaya belajar visual, dengan sedikit kinestetik. Kali ini saya akan mencoba menerapkan teknis gaya belajar visual untuk memecahkan satu masalah yang selalu terjadi setiap hari dengan Del. 

Masalahnya adalah, setiap pulang sekolah, sangat sulit membuatnya disiplin berganti pakaian rumah, meletakkan seragam kotor ke tempatnya, menggantung pakaian atau jilbab yang masih bersih dan meletakkan kaus kaki dan sepatu ke tempatnya :'(Meski saya sudah menerapkan pembelajaran di Game Level 2 dengan mengingatkannya langsung, tapi lebih sering Del meletakkan saja barang-barang tadi di tempat ia membukanya, SETIAP HARI, membuat saya sedikit frustrasi 😥

Nah, karena Del cenderung visual, saya berpikir, apakah karena itu dia tidak ngeh dengan instruksi perkataan langsung? Karena instruksi dengan perkataan langsung lebih cocok untuk gaya belajar auditori? Maka instruksi tersebut pun saya tulis! 

Instruksi tertulis untuk Del Si Visual 🙂

Hasilnya? Alhamdulillaah…kemarin begitu pulang sekolah, saya cuma mengingatkan Del untuk membaca kertas tugasnya, dan sesudahnya dia langsung mengerjakan hal-hal yang saya tulis. Aaah…terharu saya #tangisbahagia 😂😂 

Meski Del tetap harus diingatkan juga, tapi paling tidak saya cuma mengingatkan satu hal, yaitu membaca kertas tugasnya. Dan bukannya mencerewetinya sampai lima kali 😁

Posted in Bunda Sayang, ibu profesional, IIP

Observasi Gaya Belajar Melalui Ekspresi Emosi

​Wow…ternyata gaya belajar anak juga dapat dilihat dari caranya mengekspresikan kemarahannya. 

Menurut scholastic.com ketika anak-anak marah, dia akan mengeluarkan ekspresi marahnya dengan gaya yang berbeda-beda. Dan itu berhubungan dengan gaya belajarnya. 
Anak auditori melampiaskan marahnya dengan berteriak dan menjerit. 
Anak visual melampiaskan marahnya dengan menggambar atau menuliskan perasaannya. 
Anak kinestetik melampiaskan marahnya dengan menghentakkan kaki dan atau melempar barang. 
Sounds familiar? 😁
Untuk hal ini, saya coba mengingat kembali bagaimana Del (8y4m) bereaksi ketika ia emosi. Del tidak pernah menggambarkan perasaannya. Dia pernah menulis yang menyatakan ia kesal (semacam diary), tapi saya cuma mendapati itu sekali. Ia sering berteriak, tapi tidak menjerit. Berteriak ini umumnya kalau ia bertengkar dengan adiknya, yang biasanya juga berteriak. Tapi kalau tidak ada orang lain yang terlibat, misalnya ia kesal karena gagal melakukan sesuatu, biasanya ia melempar barang. 

Seperti kasus kemarin, ketika ia mencoba buat efek domino, ternyata di percobaan pertama tidak berhasil. Saya dorong ia mencoba lagi. Ternyata di percobaan kedua juga tidak berhasil, malah menurutnya lebih buruk dari yang pertama. Serta merta ia pun menghancurkan domino yang ia susun 😂 
Beberapa kali di kasus-kasus yang lebih lama, kalau ia kesal, ia menyatakan dengan suara keras apa yang membuat ia kesal, kadang sampai berteriak, menghentakkan kaki kuat-kuat lalu menyepi ke satu tempat. Sepertinya dari sisi ini, Del campuran kinestetik dan auditori ya? 🙂