Posted in Uncategorized

Mengenal Klien

Sebenarnya ingin menggunakan kata yang lebih Indonesia daripada ‘klien’ yang merupakan kata serapan, tapi gak ketemu kata yang pas. Ya sudahlah, pakai kata klien saja (out of topic bener!).

Hari ini tersadarkan tentang pentingnya mengenal klien. Beberapa hari yang lalu aku akhirnya berjumpa dengan klien proyek rumah tinggal yang sedang kukerjakan, setelah beberapa minggu merancang tanpa berjumpa langsung dengan mereka (sebelumnya dengan perantara si kontraktor). Aku senang, karena sudah 7 (tujuh!) alternatif desain yang kusodorkan, kok ya masih belum diterima. Dengan disetujui oleh si kontraktor berjumpalah kami semua, perancang, kontraktor dan pemilik (suami istri).

Kusodorkan rancangan terbaru, setelah diperhatikan secara teliti oleh si bapak (kira-kira ada 10 menit si bapak merenung diam sambil melihat gambar), eh ya masih ada yang kurang sreg di logika beliau mengenai sirkulasi. Bukan di hati, tapi di logika, karena beliau punya alasan🙂 Diskusi dengan berbagai alternatif, curah gagasan mengenai solusi terbaik dengan pemilik dan kontraktor, akhirnya solusi diterima dengan model sirkulasi berlorong.

Wah! Jujur saja, awalnya tak terpikir olehku membuat model berlorong dan berbelok seperti yang disarankan si bapak, karena beberapa kali membuat rancangan seperti itu, selalu ditolak klien. Ternyata terus berlanjut, proyek terakhir ini kurancang mengikuti ‘keinginan klien terdahulu’, bukan keinginan klien sekarang. Karena bertemu dan berdiskusi langsung dengan si pemiliklah, aku jadi paham. Aku jadi tahu keinginannya. Revisi gambar hingga alternatif 10, akhirnya alternatif 10 diterima! Yaayy!!! Hari ini melanjutkan kembali mengerjakan gambar-gambar rencana finishing dan detail, rasanya jadi lebih mudah melakukannya setelah mengenal sedikit tentang calon pemilik rumah.

Tentu saja, proses mengenal klien yang kulakukan bisa dibilang ‘terlalu singkat’. Aku pernah mendapat info kalau sebelum merancang rumah, Adi Purnomo melihat dulu aktivitas calon pemilik rumah sehari-hari dan berusaha mengenal mereka. Lha proses yang aku lakukan ini bisa dibilang ‘ecek-ecek’ dibandingkan proses mengenal klien sebenarnya!!! Tapi ya tak apalah. Proses belajar mulai dari yang sederhana dulu, yang simpel dulu. Lama kelamaan baru masuk ke yang ideal. (Aahhh…ini baru namanya membela diri atas ketidaksempurnaan :))

😀

Catatan:
Ecek-ecek: bahasa slang di Medan, artinya: tidak serius, pura-pura, main-main.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s