Posted in Book review

[Book Review] Api Tauhid – Habiburrahman El Shirazy

Pengakuan 1: saya tidak tahu banyak tentang sejarah Islam. Oleh karena itu, ketika melihat sampul buku ini, saya bertanya-tanya, siapa sih Badiuzzaman Said Nursi? Pengakuan 2: saya kurang suka novel Ayat-Ayat Cinta (satu-satunya buku Habiburrahaman El Shirazy yang pernah saya baca), jadi tidak begitu semangat hendak membaca buku ini. Tapi berkaitan dengan Pengakuan 1, saya merasa harus menambah ilmu tentang sejarah Islam, yo wis masuk daftar to read :p

Dengan harap-harap cemas saya membaca ini, apakah akan banyak drama yang menakjubkan seperti novel Ayat-Ayat Cinta, sehingga cerita dan konfliknya seperti sinetron Ramadhan? Bab pertama langsung diberi konflik yang cukup membuat saya penasaran. Dan ternyata, buku ini menceritakan kisah beberapa pemuda yang menceritakan kisah hidup Badiuzzaman Said Nursi. Jadi kalau kau baca buku ini, kau dapat dua cerita, sekali tepuk dua nyawa.

Awalnya sedikit bingung dengan pergantian tokoh dan setting, tapi lama kelamaan terbiasa, dan terus terang, saya lebih terhanyut pada kisah Badiuzzaman Said Nursi dibanding tokoh-tokoh Fahmi, Subki, Aysel dan lainnya. Sungguh manusia yang luar biasa Badiuzzaman Said Nursi itu. Kecerdasannya, istiqomahnya dan kecintaannya pada Allah membuat saya merasa malu dan berkaca-kaca dan berpikir, seperti inilah contoh orang yang harus kita teladani selain Rasulullah. Pemikiran-pemikirannya sangat relevan dilaksanakan hingga sekarang, dimana beliau mengatakan bahwa kebodohan, kemiskinan dan perpecahan adalah musuh utama dalam menegakkan agama Allah. Sudah sepatutnya kita sekarang menjaga umat Islam dari kebodohan, kemiskinan dan perpecahan.

Buku ini juga menceritakan dengan cukup detail tentang perubahan Turki menjadi negara sekuler yang membuat saya ternganga. Seperti inilah sekulernya Turki, hingga azan pun saat itu tidak boleh berbahasa Arab. Sementara kebanyakan orang menyalahkan Mustafa Kemal Attaturk, saya menganggap ini adalah akibat pendidikan sekuler ala Eropa, baik itu secara fisik maupun sistem, yang sudah diterapkan kekhalifahan Turki bertahun-tahun sebelumnya. Ibaratnya, kesalahan bertahun-tahun sebelumnya akhirnya menyerang balik pada Turki sendiri. Dan sistem pendidikan sekuler ala Eropa itulah yang ditentang Badiuzzaman Said Nursi. Semoga kesalahan ini tidak lagi kita ulangi, baik itu dalam sistem kenegaraan, maupun dalam pendidikan keluarga.

Sementara untuk kisah Fahmi, tokoh utama buku ini, sepertinya hanya cerita sampingan, penarik minat, agar orang-orang mau membaca kisah sejarah Islam, dibarengi dengan kisah percintaan orang muda. Dan untuk ini, saya acungi dua jempol untuk Habiburrahman El-Shirazy. Alhamdulillah, melalui buku ini pengetahuan saya tentang sejarah dan tokoh Islam bertambah. I think it’s a must read🙂

Bisa dibaca juga di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s